MES Bandung Barat, Bekerjasama Dengan Dewi Rahmasari Education and Care Mensosialisasikan Pendidikan Ekonomi Syariah

 

Cimahi – TABLOIDCERDAS.COM – dihari minggu, ditanggal yang cantik…yaitu tanggal 2 Februari 2020 telah berlangsung acara Pengkajian Islam dengan topik Murabahah atau jual beli sehingga jual beli yang Kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dapat diridhoi Allah SWT bila sesuai dengan hukum Allah… Demikian yang dikatakan ibu R. Dewi Rahmasari S.S., M.A.selaku ketua Pariwisata Halal Bandung Barat yang merupakan penyelenggara kajian Islam yang berjudul “Murabahah” yang merupakan kajian Islam Rutin Syariah Pertama dari Masyarakat Ekonomi Syariah Kabupaten Bandung Barat yang bekerjasama dengan Dewi Rahmasari education and care, bertempat di Masjid Al’Alim SMPN Satu Cimahi.

Forum kajian ini dihadiri oleh kurang lebih 13 orang yang berasal dari para Dosen, karyawan, ibu – ibu Rumah Tangga Dan murid – Murid Sekolah dan Praktisi.

Adapun yang menjadi nara sumber dalam acara kajian Islam ini adalah Dadin Solihin., S.H., MH. (Dosen, Ketua Umum MES Kabupaten Bandung Barat dan Founder Dewi Rahmasari Education and Care, R. Dewi Rahmasari, S.S., MA. Yang merupakan(Dosen STEI LPPM juga Ketua Mes Bandung Barat dibidang Pariwisata Halal).

Sosialisasi pendidikan Ekonomi Syariah kepada Masyarakat yang dilakukan pertamakali secara rutin oleh Mes Kabupaten Bandung Barat melalui kajian Islam di Masjid Al’Alim SMPN Satu Cimahi, jalan SMP Cimahi. Adalah bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat nasional dan internasional betapa pentingnya pemahaman dan aplikasi ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari sehingga 10 tahun yang akan datang insya Allah terciptalah ekosistem halal dan siapnya industri halal di Indonesia karena sistem syariah lah yang akan menguatkan dan memajukan perekonomian Indonesia pada umumnya dan dunia pada khususnya berdasarkan sistem keadilan dan kerjasama yang Amanah dan berkeadilan.

Di langkah awal, materi yang disampaikan Ustadz Dadin Solihin., S. H., MH. Adalah mengenai Akad Murabahah dalam Ekonomi Islam :
Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia adalah bertujuan untuk memperoleh keuntungan. Jika kita mengetahui istilah penjualan secara umum, maka dalam ekonomi Islam hal tersebut dikenal dengan istilah ba’i. Jual beli dalam bahasa arab “al-bay’u” berarti saling menukar (pertukaran) atau pertukaran dari satu barang dengan yang lain.

Ada banyak bentuk jual beli yang terdapat dalam Islam. Salah satu yang umum diketahui adalah murabahah.

Pengertian Akad Murabahah

Murabahah berasal dari kata bahasa Arab, ribh(ar-ribhu) yang berarti keuntungan, kelebihan, atau tambahan. Di dunia perbankan syariah, perjanjian ini terjadi antara bank dengan nasabah yang memerlukan barang dari bank tersebut. Pada dasarnya, murabahah adalah transaksi penjualan.

Yang membedakan akad ini dengan praktik penjualan konvensional adalah informasi yang diberikan kepada pembeli. Menurut pendapat Utsmani, murabahah adalah bentuk jual-beli yang menuntut penjual untuk memberi informasi kepada calon pembeli tentang harga dan biaya di baliknya. Selain harga jual, calon pembeli juga berhak tahu tentang nilai pokok barang serta jumlah keuntungan yang diambil penjual.

Murabahah termasuk Bai’ul Amanah

Akad murabahah termasuk dalam kategori jual beli amanah atau dalam bahasa arab disebut bai’ul amanah. Apa itu bai’ul amanah? Ia adalah jual beli dimana penjual dipercaya untuk menyebutkan harga belinya/harga modal dengan jujur. Bai’ul amanah terdiri dari tiga jenis yaitu bai’ul murabahah, bai’ul tauliyah dan bai’ul wadiah.

Bai’ul Murabahah
Pada bai’ul murabahah, penjual dipercaya untuk menyebutkan modal atas barang yang ia jual termasuk keuntungan yang hendak ia peroleh.

Bai’ul Tauliyah
Pada bai’ul tauliyah, penjual akan menjualkan barangnya sesuai dengan harga modal ketika ia memperoleh barang tersebut.

Bai’ul Wadiah
Pada bai’ul wadiah, penjual akan menjualkan barangnya dibawah harga modal ketika ia memperoleh barang tersebut.

Pendapat Ulama terkait Jual Beli Amanah

Pada dasarnya sebagian besar ulama memperbolehkan jual beli amanah dengan tiga jenis tersebut. karena dalam transaksi tersebut terdapat keridhaan akan kedua belah pihak dan dapat saling menguntungkan karena masing-masing mengetahui modal dan keuntungan yang diperoleh.

Adapun ulama malikiyah tidak menyarankan jual beli amanah. Hal tersebut didasarkan karena umumnya manusia tidak menyukai bila harga modal dan keuntungannya diketahui. Oleh sebab itu, ulama malikiyah lebih menyarankan untuk menggunakan model transaksi ba’i al musawamah. Jual beli ini tidak menuntuk seorang penjual untuk memberitahukan harga modal dan keuntungan yang akan diperolehnya.

Dalam jual beli ini juga umum terjadi adanya tawar menawar harga agar mencapai kesepakatan atas harga dan meraih keridhaan antar kedua belah pihak.

Murabahah itu bermakna bila anda menjual barang yang disertai dengan pengakuan akan modal dan keuntungan yang hendak diperoleh kemudian disepakati oleh pembeli maka anda telah melakukan transaksi murabahah. Dengan kata lain, akad murabahah bisa terjadi jika transaksi penjualan dan pembelian memiliki margin keuntungan yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Dalam hal ini, pembeli berhak membatalkan keinginan untuk bertransaksi jika pada akhirnya biaya yang dikemukakan oleh penjual tidak sesuai dengan keinginan. Pembayaran barang dalam akad ini bisa dilakukan secara tunai atau kredit, sesuai kesepakatan sehingga tidak terbatas hanya pada cara cicilan.

Landasan Hukum Murabahah
Landasan utama adanya transaksi murabahah adalah berasal dari Q.S. Al-Baqarah[2] : 275, yang artinya “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. Juga pada Q.S. An-Nisa[4] : 29 yang artinya, “hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu“

Fatwa MUI Terkait Murabahah
Pada era saat ini dimana transaksi murabahah erat kaitannya dengan praktik pada lembaga keuangan syariah, maka transaksi murabahah tercantum dalam fatwa DSN NO: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah.

Dalam hal ini dikarenakan adanya janji yang terikat yang membuat kedua belah pihak tidak dapat menarik diri maka transaksi ini diperbolehkan. Hal ini merupakan pendapat dari ulama Dr. Yusuf Al Qaradhawi dan Dr. Samid Hamud.

Landasan Hadist atas Fatwa

Landasan dari pendapat ini adalah sabda Nabi SAW yaitu, “Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain baik permulaan ataupun balasan” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani). Kemudian terdapat banyak dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharuskan seorang muslim memenuhi janjinya dan menyebut orang yang tidak memenuhi janji sebagai orang yang munafik.

Nabi SAW bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga apabila ia berucap ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar dan apabila ia diberikan amanah ia khianat” (HR. Bukhari)

Pendapat Jumhur Ulama

Jumhur (mayoritas) ulama telah sepakat terkait kebolehan akad murabahah. Sebagian ulama mendasarkan kebolehan ini dengan menganalogikan (qiyas) terhadap jual beli tauliyahyaitu jual beli dengan harga yang sama dengan harga modalnya.

Syarat dan Rukun Terjadinya Akad Murabahah

Sebelum akad murabahah bisa terjadi, ada beberapa syarat dan rukun yang harus dipenuhi, antara lain:
1. danya pembeli dan penjual yang telah balig dan berakal sehat.
2. einginan bertransaksi dilakukan dengan kemauan sendiri tanpa adanya paksaan.
3.adanya objek akad.
4.danya barang atau objek yang akan dijual.
5.kejelasan harga dan kondisi barang, dengan harga yang disepakati bersama. Penjual juga harus memberitahukan harga pokok beserta besaran keuntungan yang diinginkan kepada pembeli
6.Ijab dan kabul.

Diharapkan dengan adanya kajian Islam Rutin ini semakin membuka pemaahaman yang luas bagi masyarakat mengenai penerapan pendidikan ekonomi syariah sejak dini dimulai dari pemberian pemahaman perilaku Syariah kepada anak balita misalnya dengan kesadaran akan hak milik pribadi dan orang lain sampai dengan anak kuliahan juga masyarakat umum. Sehingga target 10 tahun mendatang akan terciptanya ekosistem halal di Jawa Barat pada khususnya dan Indonesia Pada umumnya juga dunia internasional, Karena perekonomian akan semakin siap dan kuat di Indonesia apabila diterapkannya prinsip-prinsip ekonomi syariah oleh masyarakat.***

Team Redaksi www.tabloidcerdas.com
Dewi Rahmasari

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply