Pancasila dan Generasi Milenial

 

Pancasila dan Generasi Milenial
Setiap menjelang tanggal 1 Juni, diskusi tentang Pancasila kembali menyeruak ke ruang publik. Partanyaan mendasarnya adalah masih relevankah Pancasila diterapkan di era zaman now ? Selalu hal tersebut berulang setiap tahunnya. Memang tak dapat dipungkiri, pemahaman generasi milenal terhadap Pancasila makin menipis. Bisa jadi karena generasi milenial yang umumnya kelahiran tahun 1990 tidak mengalami masa-masa perjuangan atau era kolonial, masa dimana Pancasila ini dilahirkan. Karenanya tafsir Pancasila makin tidak terlihat gaungnya di kalangan generasi milenial.

Padahal sebagai ideologi bangsa, Pancasila sudah berusia 73 tahun. Selama kurun rentang waktu yang panjang tersebut Pancasila telah melewati berbagai jaman. Dimulai di masa Presiden Soekarno yang dikenal dengan Orde Lama, kemudian ke era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, era reformasi dan sekarang era internet atau digital yang melahirkan generasi baru yang melek dengan pengetahuan digital.
Praktis dengan pengalaman panjang tersebut Pancasila masih tetap kokoh sebagai ideologi bangsa. Namun bukan berarti tidak ada ancaman untuk Pancasila. Beberapa kali ancaman itu datang sesuai dengan eranya, mengusik kebhinekaan yang ada di Indonesia dengan gerakan-gerakan separatis yang hendak memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Yang terkini adalah paham radikal yang ingin mengusik Pancasila sebagai ideologi negara. Paham ini menciptakan pemikiran radikal yang membawa paham baru dari luar untuk diterapkan di Indonesia. Tentunya paham dari luar tadi bukanlah hasil dari sejarah terbentuknya Pancasila. Paham radikal pun memberikan efek negatif bagi masyarakat yaitu menimbulkan keresahan dan rasa tidak nyaman di masyarakat.

Target utamanya adalah generasi milenial. Generasi inilah yang menjadi pengakses utama internet dengan jumlah yang sangat besar. Berbagai macam informasi didapatkan dengan mudah lewat internet. Namun, kebanyakan informasi di internet adalah hoax yang menyesatkan. Dan mereka masih belum bisa menyaring informasi tersebut sehingga mereka menelan mentah-mentah dan menganggap informasi tersebut adalah sebuah kebenaran.

Inilah keresahan kita semua. Dengan mudahnya satu per satu penerus bangsa ini dicuci otaknya dan menyebarkan paham-paham radikal. Mereka merasa bahwa apa yang mereka sampaikan ke masyarakat adalah yang paling benar. Tentu kita tidak ingin generasi penerus bangsa ini menjadi generasi radikal secara perlahan.

Maka dari itu, Pancasila perlu kembali digalakkan dan dihidupkan ke generasi milenial. Nilai-nilai Pancasila dan tafsir-tafsir Pancasila perlu disebarluaskan melalui media social dengan tujuan meningkatkan pemahaman nilai-nilai dan tafsir-tafsir tentang Pancasila. Tentunya disampaikan dengan cara yang mudah diterima oleh kalangan milenial. Yang terpenting adalah membentuk generasi milenial yang selalu mengkampanyekan nilai-nilai dan tafsir-tafsir Pancasila itu sendiri.

Bagaimanapun, Pancasila tetaplah sebagai ideologi bangsa. Karena didalamnya terdapat semangat Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda namun tetap satu jua. Dalam semangat tersebut ada kebersamaan gotong royong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat inilah yang mempersatukan Indonesia yang persatuannya dikagumi oleh negara lain.

Agar nilai-nilai dan tafsir-tafsir Pancasila tersampaikan dengan baik ke generasi milenial, tentu harus mengadopsi cara-cara digital dalam implementasi nilai-nilai dan tafsir-tafsir Pancasila tersebut. Misalnya membantu sesama menggunakan sosial media yang sangat digandrungi oleh generasi milenial seperti Instagram, twitter, facebook, atau melalui situs donasi Kitabisa.com.

Generasi milenial harus paham bahwa Pancasila itu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusiaan. Tidak hanya memahami saja, namun harus diterapkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat menekan dan mengurangi sifat paham radikalisme yang sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dengan terbiasanya generasi milenial menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, maka tidak menutup kemungkinan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju.

Artikel kiriman Alif Rama Putra Septian mahasiswa dari Universitas Islam Malang

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply