DATANG UNTUK PERGI

DATANG UNTUK PERGI
Oleh: Ananda Juliani Putri

Mentari pagi ini mulai menembus sela-sela jendela kamarku. Yang tanda nya aku harus bersiap untuk menjalnkan rutinitasku sebagai seorang pelajar. Ya, ini adalah minggu terakhirku belajar di sekolah sebelum bertemu libur panjang karena perayaan natal dan tahun baru. Hari itu seperti biasa nya aku pergi ke sekolah menggunakan sepeda kesayanganku pemberian dari kakek.

Namun siapa sangka saat perjalanan menuju sekolah aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama aku ingin melihatnya. Dia Faris ! Ya tak salah lagi aku betul-betul mengenali wajahnya. Dia adalah teman semasa kecil ku saat aku berada di Surabaya dulu diumur 10 tahun. Kami akhrinya berpisah karena ayahku harus pindah tugas pekerjaan ke Kota Bandung. “Faris!” sahutku. Dia pun menoleh dan saat ku panggil namanya dia langsung terkejut. “Putri? Itukah kau?”, dia ternyata masih ingat denganku.

“Faris, kenapa kau bisa disini? Ku merindukanmu!” kataku yang dengan perasaan sangat bahagia bisa bertemu kembali sahabat lamaku. “Aku akan pindah ke sekolah yang ada diujung jalan itu, dan aku akan menetap di Kota Bandung karena aku harus menemani nenek ku yang tinggal sendirian disini sekarang. Dan yaa… aku merindukanmu juga, sudah 8 tahun lamanya kita tidak bertemu ya Put” Faris bercerita dengan raut wajah sangat riang, sama sepertiku saat ini. “sekolah diujung jalan itu? Itu sekolahku juga! Berarti kita akan satu sekolah? Yeaahhh aku senang sekali bisa bersamamu lagi” karena terlalu senang, aku sampai lupa kalau aku juga harus bergegas masuk kelas. “Yasudah ayoo kita ke sekolah, sudah hampir bel nih” ajakku pada Faris yang akhirnya kami berangkat ke sekolah bersama.

Esok hari nya aku bangun pagi jadi lebih bersemangat, karena ada sahabatku yang kembali ada disampingku. Pagi itu aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah, dan saat hendak mengeluarkan sepeda dari garasi, tiba-tiba ibu ku menghampiriku dengan raut wajah begitu sedih, belum pernah aku melihatnya dengan raut muka seperti itu. “Ada apa bu?” tanyaku lebih dulu. “Put, hari ini kamu izin tidak masuk sekolah dulu ya nak” dengan nada sangat lirih. Aku pun bertanya-tanya dengan suasana pagi ini dan kenapa ibu menyuruhku untuk izin sekolah hari ini? Padahal hari ini aku sangat bersemangat agar bisa cepat ketemu Faris!. “Memangnya ada apa bu?” tiba-tiba saja perasaanku tidak enak.

“Kamu ingat dengan Faris sahabat lama mu ketika kita di Surabaya?” ibuku bertanya. “Tentu saja bu aku ingat, baru saja kemarin kami bertemu dan ternyata dia pindah ke Bandung juga bu dan lagi dia satu sekolah denganku” tanpa sadar aku menjawabnya dengan penuh semangat. Ketika ibu mendengar jawabanku seperti itu, tiba-tiba ibu terkejut dan seketika pula matanya berkaca-kaca. “Nak, ganti baju mu dan ikut ibu ke rumah sakit ya nak, ibu tunggu di mobil” aku masih bingung dengan semua ucapan ibu, dan aku menurut saja perkataan ibu.

Setelah ganti baju dan aku langsung masuk ke mobil, duduk di samping ibu yang tampak murung sekali. Beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah rumah sakit dekat pusat Kota Bandung. “Ayo nak”. “Bu, kita kesini mau apa?” tanyaku yang masih bingung kenapa ibu membawaku ke sini. “Kamu harus dengar dulu penjelasan ibu sesampainya disebuah kamar nanti di dalam ya Nak”, “penjelasan apa bu?” semakin menjadi jadi aku kebingungan. Kami langsung menyusuri sebuah lorong yang tampak sepi, hanya ada sedikit orang yang melintasi lorong itu. “Nak, dengarkan ibu baik-baik.

Faris, sahabatmu itu sebenarnya sudah ada di Bandung sejak awal bulan November kemarin, namun sayangnya dia pindah ke Bandung ini karena dia harus berobat, dia…” tiba-tiba ibu menghentikan penjelasannya dan menatapku dalam-dalam. “Dia harus menjalani terapi karena dia mengidap penyakit kanker darah Leukimia” lalu ibu benar-benar menghentikan pembicaraannya, dia lalu menatapku yang tanpa sadar mulai menetaskan air mata. “tapi bu itu tidak mungkin, kemarin aku bertemu dengannya dan dia terlihat baik-baik saja” aku pun benar-benar menangis pada akhirnya.
“iya nak, setelah masuk sekolah denganmu kemarin itu, dia pingsan lalu dia dilarikan ke rumah sakit ini, saat bertemu denganmu di sekolah kemarin, itu permintaan dia agar bisa bertemu denganmu dulu. Dia memaksakan dirinya, dan kamu harus benar-benar tegar menghadapi hari ini nak” nada ibu semakin lirih dan entah kenapa rasanya dadaku terasa sesak sekali, sulit untuk bernafas. “ayo nak”, ibu menuntunku ke sebuah kamar, tidak! Itu bukan sebuah kamar seperti biasanya, melainkan kamar jenazah! Aku terkejut setengah mati ketika ibu menghentikan langkahnya depan kamar jenazah itu.

“bu, kenapa disini?” tanyaku yang berharap bukan sebuah jawaban apa yang aku pikirkan saat ini. “nak, subuh tadi dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya” aku benar-benar terkejut dan menangis sejadi-jadinya, aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya bisa memeluknya sesaat sebelum dimandikan. Kemarin, adalah hari terakhir aku bertemu dengannya, tak ku sangka hari ini menjadi pertemuan terakhir kami lagi setelah kami terpisah lama. “Faris, tenanglah kamu disana, terimakasih sudah mau menemui ku, aku sungguh merindukanmu, dan aku senang kita sudah bertemu, kamu akan bahagia disana, kamu tidak perlu lagi merasakan sakitmu dan berpura-pura bahwa kau baik-baik saja. Terimakasih sudah tetap menjadi sahabat terbaikku”***

_______________________________

Team Redaksi www.tabloidcerdas.com
Reporter/Editor : Yudi

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply